Yoga Surya Namaskar

Dalam prakteknya, yoga mirip dengan kegiatan olah raga/ olah tubuh dengan tujuan tertentu. Nama asli olah tubuh ini sendiri berasal dari bahasa sangsekerta yaitu sastanga suriyanama sakar yang artinya sujud kepada matahari dengan menggunakan anggota tubuh yang delapan. Dengan demkian, yoga bukanlah olahraga murni yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran tubuh maupun ketenangan batin, sebagaimana klaim para praktisinya. Secara esensi yoga lebih dekat pada salah satu bentuk ritual setan atau praktik ibadah yang ditujukan oleh pengikutnya kepada dewa matahari. Bentuk ritual ini merupakan praktik yang sudah berlangsung selama ribuan tahun yang lalu di India.

 

Gerakan yoga secara khususnya bertumpu pada sepuluh gerakan. Salah satu bentuk gerakannya adalah gerakan menelungkup di atas tanah dengan keadaan memanjang hingga ke delapan anggota tubuh menyentuh tanah (dua tangan, hidung, dada, dua lutut, dan jari-jemari dua telapak kaki). Gerakan ini serupa dengan bentuk gerakan sujud kepada matahari dengan menggunakan anggota tubuh yang delapan.

 

Jika kita amati, maka gerakan-gerakan yoga ini menyerupai gerakan para dewa yang disembah oleh orang-orang India (di dalam buku senam yoga untuk ibu hamil terdapat gerakan-gerakan seperti ini dimana gerakan-gerakan ini dijelaskan merupakan gerakan seperti gerakan dewa, jelaslah disini bahwa senam yoga memang merujuk gaya dan gerakan para dewa yang disembah oleh kaum pagan). Dalam Yoga, menggunakan doa-doa disebut mantra yoga dan gerakan-gerakan disebut hatha yoga. Dalam melakukan gerakan ini, mereka mengiringinya dengan lafadz-lafadz dan bacaaan tertentu yang beraroma mantra. Mereka melakukannya dengan irama teratur. Sebagian dari bait-bait mantra ini mengandung nama-nama matahari yang berjumlah 12. Dalam mengucapkan mantra-mantra (mereka menyebutnya afirmasi) terkadang mereka menambahinya dengan lafadz aum haraam, aum hariim, aum haruum, yang memiliki makna dalam bahasa Indonesia “Ya, Dewa atau Wahai Dewa” [1].

 

Ketika kita mengucapkan mantra  atau chanting tersebut tanpa sadar meyakini adanya para dewa yang berada dalam setiap gerakan Yoga, ataupun pada saat kita meditasi chakra dengan meyakini ada berbagai macam dewa-dewa penjaga chakra. Padahal tidak ada dewa-dewa atau tuhan melainkan Allah saja. Ingatlah firman Allah Ta’ala:

شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ َلآ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ َلآ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyatakan tiada Tuhan selain Ia, Demikian pula para malaikat dan orang-orang yang berilmu, menyatakan demikian. Tiada Tuhan selain Ia Yang Mahaperkasa lagi Maha bijaksana”.(Ali Imran:18).

Allah telah berfirman bagi siapa saja yang mempersekutukan-Nya dan menganggap adanya Ilah lain selain Allah maka Allah tidak akan mengampuninya.

Firman Allah Ta’ala:

 

إِنََّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ ضَلََّ ضَلَلا بَعِيدًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, Dan Dia mengampuni dosa yang lain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. “(An-Nisaa’ : 116).

 

Waktu-waktu yang digunakan untuk melakukan kegiatan yoga ini adalah ketika terbit matahari dan terbenamnya. Kedua waktu tersebut merupakan kondisi dimana matahari berada di antara dua tanduk setan. Hendaknya seorang muslim menghindari waktu-waktu yang menjadi kebiasaan para praktisi yoga saat melakukan ritualnya. Bahkan untuk ibadah sholat sekalipun, Rasulullah melarang seseorang melakukan pada waktu-waktu tersebut.

 

Hal lain yang perlu diketahui adalah bahwa di saat seseorang melakukan gerakan-gerakan dewa ini, maka dengan mudah setan akan masuk ke dalam tubuhnya. Setan akan dengan cepat masuk ke dalam aliram darahnya ketika ia melakukan gerakan-gerakan ini. Salah seorang praktisi yoga yang diruqyah menceritakan bahwa di dalam dirinya terdapat pulihan ribu jin. Ketika ditanyakan kepada ustadz yang meruqyah dirinya, jin-jin tersebut masuk ke dalam tubuh saat melakukan gerakan-gerakan ritual itu.

Contoh Gerakan Yoga Surya Namaskar

 

 


[1] Menurut kepercayaan Hindu, Suku kata AUM (OM) yang suci adalah lambang dari Dewa yang Mutlak. Ia diucapkan pada awal dan akhir dari hampir seluruh doa Hindu. Mahareshi Manu mengatakan bahwa Aum berarti “bumi,” “langit,” dan “surga.” AUM dianggap sebagai inti dari Weda-Weda. Beberapa orang mengatakan bahwa “A” merupakan simbol atau mewakili keadaan jaga (Jagra), “U” mewakili keadaan tidur (Nidra), “M” mewakili keadaan tidur yang dalam/pulas (Sushupti) dan gabungan dari AUM mewakili seluruh kesadaran. Katha Upanishad mengatakan, “Kata yang diucapkan oleh semua Weda dan para sanyasin, dan keinginan dari orang yang melaksanakan hidup suci – kata yang akan kujelaskan kepadamu secara singkat. Suku kata ini sesungguhnya adalah Brahman; suku kata ini sesungguhnya adalah Yang Maha Tinggi.” Mandukya Upanishad mengatakan, “AUM -suku kata ini berarti seluruh dunia.” Masa lalu, masa kini, masa depan, segalanya hanyalah suku kata AUM. Bahkan tiga waktu hanyalah AUM.”

 

Mahareshi Patanjali yang menulis Yoga Sutra berbicara tentang Tuhan sebagai “AUM.” Dia menulis, “Pusatkan pikiran pada AUM supaya dapat berhubungan dengan Tuhan. AUM adalah simbolNya.” Dalam Upanishad-Upanishad, AUM dijelaskan sebagai Pranawa.

 

Menurut Ajaran dan kepercayaan mistik Hindu, AUM adalah suara yang mempunyai getaran (vibrasi) sangat tinggi atau sangat rendah, ia tidak dapat diucapkan dengan suara manusia Suara kosmis dari AUM tidak terpahami oleh indriya, tapi ia dapat dialami oleh meditasi yang amat dalam. Hampir semua mistikus dari Timur dan Barat telah membuktikan pengalaman nyata dari suara kosmis ini. Saint Francis dari Assisi, misalnya, menyebutnya sebagai satu musik yang demikian manis dan indah dan bila saja musik itu berlangsung sedikit lebih lama, dia akan sepenuhnya lenyap hilang dalam musik itu. Cara yang benar untuk mengucapkan AUM adalah dengan pengucapan dalam pikiran dan super-kesadaran. AUM harus diucapkan dengan Pratyahara (internalisasi perhatian) dan Pranayama (pengendalian prana – daya hidup – life force dan penarikan indriya secara wajar dari obyek-obyek indriya). Dikatakan bahwa dia yang mengetahui Tuhan sebagai suara kosmis menemukan dirinya bebas dari semua penderitaan dan kematian. (

~ by satrialang on December 21, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: